Brilio.net - Sebuah rekaman video yang beredar di jagat maya memperlihatkan seorang tenaga pendidik honorer bernama Bu Ijah yang memutuskan untuk menyudahi masa baktinya. Setelah mengabdi selama empat dekade di dunia pendidikan, guru non-ASN ini menunjukkan amplop berisi upah terakhir yang diterimanya, yakni sebesar Rp414.000.
Dalam rekaman suara yang beredar luas tersebut, Bu Ijah memberikan pernyataan langsung.
“Saya Bu Ijah, pada Juni 2026 ini memutuskan berhenti menjadi guru setelah 40 tahun mengabdi dengan membawa gaji terakhir Rp414.000. Mari kita hitung. Ini ya amplopnya. Kita buka. Satu... dua... tiga... empat... 10.000... 2.000... dua... Bukan pamer ya, hanya sekadar mengungkap fakta. Wassalam,” ujarnya seperti dikutip brilio.net dari TikTok @buijah28, Selasa (30/6/2026).
viral guru honorer pensiun gaji 414 ribu
© 2026 /TikTok @buijah28
Perjalanan Karier dan Riwayat Mengajar Bu Ijah
Berdasarkan keterangan tambahan yang dihimpun dari ruang publik, Bu Ijah atau yang memiliki nama asli Atrianil ini mengawali profesinya sebagai tenaga pendidik di sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta berskala kecil yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Hal ini ia sampaikan saat ada netizen yang bertanya di kolom komentar unggahannya di media sosial.
viral guru honorer pensiun gaji 414 ribu
© 2026 /TikTok @buijah28
Perjalanan karier tersebut sempat mengalami kendala pada tahun 2002 ketika terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tempatnya mengajar, yaitu di SMPN. Pascakejadian tersebut, fokus kegiatan mengajar dialihkan sepenuhnya untuk mengabdi di SMK swasta di kawasan Jakarta Barat hingga purna bakti pada Juni 2026 ini.
Alasan Menolak Transaksi Jalur Belakang CPNS
Selama berstatus sebagai guru non-ASN, keinginan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sempat diupayakan. Namun, kendala muncul ketika tidak berhasil melampaui standardisasi kelulusan dalam ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).
Di tengah situasi tersebut, sempat muncul penawaran dari pihak tertentu untuk menggunakan jalur ilegal dengan imbalan sejumlah uang yang diistilahkan sebagai "uang rokok". Penawaran tersebut ditolak secara konsisten karena prinsip bahwa segala bentuk tindakan curang, sekecil apa pun nilainya, tetap tidak dapat dibenarkan.
“Guru aneh. Ada yang bilang aku ini guru aneh. Mungkin aku memang guru aneh. Ingin jadi guru PNS, tapi tidak lulus tes CPNS, lalu ditawari jalur belakang dengan sedikit uang rokok. Bukan sogokan katanya. Kalau sogokan itu puluhan juta, bahkan ratusan juta. Ini hanya jutaan saja. Aku tolak. Menurutku, tidak ada korupsi versi ekonomis,” tutur wanita 63 tahun itu dalam video TikToknya yang lain.
Selain itu, saat aktif dalam organisasi Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), peluang untuk menempati posisi sebagai guru bantu juga pernah datang melalui rekomendasi seorang rekan. Kesempatan yang dinilai sebagai celah besar menuju status PNS itu kembali ditolak akibat terbentur kendala persyaratan administrasi resmi yang tidak dipenuhi secara prosedural.
“Saat aku aktif di FGII, Federasi Guru Independen Indonesia, ada teman yang mau menempatkan aku sebagai guru bantu di tempat aku mengabdi. Aku tolak karena aku tidak ikut tes guru bantu saat itu karena terbentur persyaratan administrasi. Aku tahu guru bantu akhirnya juga akan diangkat menjadi PNS, itu pintu emas. Tapi, juga aku tolak,” lanjut Atrianil bercerita dalam videonya.
Senjata Bertahan Hidup dan Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintah
Keputusan untuk tetap bertahan sebagai guru honorer hingga masa tua kerap menimbulkan pertanyaan dari masyarakat sekitar, terutama mengenai alasan tidak beralih profesi sebelum melewati batas usia produktif 35 tahun. Menanggapi pandangan tersebut, Bu Ijah atau Atrianil mengutarakan refleksi mendalam mengenai realitas pertahanan hidup seorang guru honorer.
"40 tahun menjadi guru honorer atau guru non-ASN, banyak yang bertanya, 'Kenapa? Ke mana saja sebelum umur 35?' Jawabannya, selain saya punya dua senjata: pertama, tahan banting; kedua, tahan lapar, juga ada dua kemungkinan lain. Apakah memang saya guru bodo, tidak berkualitas? Atau pemerintah yang konsisten tidak peduli pada guru honorer, tidak peduli pada guru non-ASN? Wassalam, saya Bu Ijah, penulis novel Lentera Putri: Kisah Sebuah Pengabdian,” paparnya panjang lebar.
Dedikasi Melalui Karya Sastra dan Pendirian Yayasan
Tanggal 23 Juni 2026 menandai hari terakhir Atrianil menjalankan profesinya sebagai seorang guru. Di samping kesibukan mengajar, rekam jejak pengabdiannya juga dituangkan ke dalam bentuk karya tulis berupa novel bertajuk Lentera Putri yang diterbitkan pertama kali oleh penerbit Gramata pada tahun 2011.
Bagi Atrianil, status sebagai tenaga pendidik non-ASN bukanlah sebuah penghalang untuk terus memberikan kontribusi terbaik di dunia pendidikan. Novel tersebut ia dedikasikan sebagai bentuk empati dan potret perjuangan kolektif para guru honorer di tanah air. Terkait prinsip pengabdiannya, ia menegaskan dalam video unggahannya pada awal September 2025 lalu.
"Tidak apa-apa menjadi guru honorer sepanjang masa, yang penting saya selalu berusaha menjadi guru yang baik. Salah satu buktinya, novel Lentera Putri. Novel yang saya tulis dengan keringat dan air mata. Keringat dan air mata guru-guru honorer di seluruh negeri tercinta. Apa kabar guru-guru honorer di seluruh Indonesia? Apa kabar guru-guru di seluruh Indonesia? Salam satu profesi,” tuturnya.
Pengembangan misi sosial ini kemudian dilanjutkan pada tahun 2020 melalui pendirian Yayasan Madani Lentera Putri. Lembaga ini dibentuk secara mandiri dengan tujuan sosial yang pembiayaannya ditopang melalui hasil penerbitan ulang novel karyanya tersebut.
"Saya Bu Ijah, hari ini 23 Juni 2026, saya hari terakhir berprofesi sebagai guru setelah 40 tahun mengabdi. Sepanjang perjalanan itu, saya menulis novel Lentera Putri yang diterbitkan penerbit Gramata tahun 2011. Nih ya novelnya. Lalu di tahun 2020, saya teruskan menjadi Yayasan Madani Lentera Putri untuk mengeksekusi cita-cita Lentera Putih Untuk membiayai program-program Lentera Putih, Yayasan Madani menerbitkan kembali novel Lentera Putih. Nih ya novelnya yang diterbitkan kembali oleh Yayasan Madani Lentera Putri. Sebenarnya kenapa sih saya menulis novel Lentera Putih dan kenapa novel Lentera Putih ini saya abadikan menjadi Yayasan Madani Lentera Putih , terlalu panjang untuk diurai. Mohon doa agar cita-cita Lentera Putih terus bertumbuh, mohon doa agar cahaya Lentera Putih terus menyala. Wassalam,” jelas Atrianil mengenai karyanya.
viral guru honorer pensiun gaji 414 ribu
© 2026 /TikTok @buijah28
Recommended By Editor
- Pengabdian tanpa batas guru di Luwu Utara usai bebas penjara, tetap mengajar meski tak digaji Pemprov
- Akhir bahagia 2 guru di Luwu Utara dipenjara karena dituduh korupsi, dapat rehabilitasi dari Presiden
- Viral guru honorer lulusan S2 dengan IPK cumlaude, malamnya berjibaku jualan martabak, ini kisahnya
- Viral guru SD spill honor mengajar selama 1 bulan, gaji Rp550 ribu masih bisa ditabung
- Viral pria ini spill gaji pertamanya jadi pencuci tray MBG, nominalnya dibandingin dengan guru honorer


































