5 Kisah kesederhanaan Meriyati Hoegeng semasa hidup, istri Kapolri ikut suami ngontrak di Menteng
  1. Home
  2. »
  3. Sosok
3 Februari 2026 16:50

5 Kisah kesederhanaan Meriyati Hoegeng semasa hidup, istri Kapolri ikut suami ngontrak di Menteng

Meriyati Roeslani Hoegeng, mengembuskan napas terakhir pada Selasa (3/2/2026) pukul 13.24 WIB di RS Bhayangkara Polri, Jakarta Timur. Agustin Wahyuningsih
foto: Repro buku "Hoegeng" (2009) via aclc kpk go id; biografiku com

Brilio.net - Kabar duka menyelimuti keluarga besar almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Sang istri, Meriyati Roeslani Hoegeng, mengembuskan napas terakhir pada Selasa (3/2/2026) pukul 13.24 WIB di RS Bhayangkara Polri, Jakarta Timur, dalam usia 100 tahun.

Karumkit RS Bhayangkara Polri, Brigjen Pol. Prima Heru Yulihartono, mengonfirmasi kabar tersebut.

BACA JUGA :
Meriyati Hoegeng meninggal dunia di usia 100 Tahun, simbol kesederhanaan pendamping jenderal jujur


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un telah meninggal dunia Ibu Meryati Hoegeng (100 tahun). Pada hari Selasa, 3 Februari 2026 pukul 13.24 WIB dikarenakan sakit," jelasnya dikutip brilio.net dari tribratanews.polri.go.id.

Jenazah disemayamkan di rumah duka Pesona Khayangan Estate, Depok, dan direncanakan dimakamkan di Taman Makam Giri Tama, Bogor, pada Rabu (4/2/2026).

BACA JUGA :
Arogansi istri jenderal masa kini dan kesederhanaan istri Hoegeng

foto: Istimewa via merdeka.com

Sepanjang hidupnya, Meriyati bukan sekadar pendamping, melainkan benteng integritas bagi Jenderal (Purn) Hoegeng. Berikut adalah 5 kisah kesederhanaan Meriyati Hoegeng semasa hidup yang tercantum dalam buku autobiografi Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan (1993), dirangkum brilio.net dari merdeka.com dan aclc.kpk.go.id.

foto: Repro buku "Hoegeng" (2009) via aclc.kpk.go.id

1. Menutup Toko Bunga demi Menghindari Konflik Kepentingan

Saat Jenderal Hoegeng diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi, Meriyati baru saja merintis toko bunga bernama 'Leilani'. Namun, Hoegeng memintanya menutup usaha tersebut agar tidak ada orang yang memesan bunga karena jabatan suaminya.

Meriyati mengenang ucapan suaminya, “Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya."

Meriyati pun dengan ikhlas menutup usahanya karena mengerti keputusan sang suami.

2. Setia Menemani Hidup dari Gaji Pensiun yang Minim

Setelah melepaskan jabatan sebagai Kapolri pada 1971, Jenderal Hoegeng hanya menerima uang pensiun sebesar Rp10.000 per bulan, yang setelah dipotong menjadi Rp7.500. Angka ini bertahan hingga tahun 2001 sebelum akhirnya naik menjadi Rp1.170.000. Meriyati tidak pernah mengeluh dan mendukung suaminya untuk tetap jujur meskipun hidup pas-pasan.

“Namun, Papi hanya menerima Rp7.500 karena potongan. Baru pada 2001, ada perubahan surat keputusan pensiun sehingga Pensiun Papi naik menjadi Rp1.170.000 per bulan,” ujar Didit atau Aditya Sutanto Hoegeng, anak kedua Hoegeng-Meriyati dalam buku Hoegeng, Polisi dan Menteri Teladan (2013). Setelah Hoegeng meninggal, istrinya hanya menerima separuhnya.

Pada masa-masa pensiun, Hoegeng dan istri berkegiatan melukis, siaran dialog di Elshinta, hingga menyanyi bersama grup Hawaiian Seniors demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

Bahkan ketika Hoegeng menolak tawaran Presiden Soeharto menjadi dubes maupun ditawari jabaran di sebuah maskapai penerbangan, Meriyati memahami keputusan sang suami yang tak tergiur rekan-rekannya yang hidup mewah.

3. Teguh Menolak Gratifikasi dan Hadiah Mewah

Selama bertugas sebagai Kepala Direktorat Reserse Kriminal Kepolisian Sumatera Utara pada akhir 1950-an, Hoegeng Iman Santoso menghadapi ujian integritas yang luar biasa di tengah maraknya praktik perjudian, penyelundupan, dan korupsi di wilayah Medan. Sejak awal kedatangannya, ia telah diperingatkan oleh Jaksa Agung Soeprapto dan rekan sejawatnya bahwa kariernya dipertaruhkan jika ia gagal menjaga diri dari godaan hadiah menggiurkan yang biasa diberikan oleh para pengusaha bermasalah. Keteguhan prinsip Hoegeng teruji saat ia secara radikal menolak berbagai fasilitas mewah, mulai dari perabotan rumah tangga hingga rumah tinggal yang telah disiapkan oleh pihak-pihak yang ingin menyuapnya.

Puncak dari ujian tersebut terjadi pada tahun 1959, ketika muncul fitnah yang menyebut bahwa istrinya, Meriyati Roeslani, telah menerima sebuah cincin berlian dari seorang pedagang kain India. Hoegeng yang merasa gusar kemudian mempertemukan istrinya dengan pedagang tersebut di kantornya untuk mengonfrontasi kabar tersebut secara langsung. Kebenaran akhirnya terungkap bahwa tuduhan itu hanyalah taktik busuk untuk menghancurkan kepercayaan publik serta meruntuhkan mental Hoegeng karena ia tidak bisa "dibeli". Dalam seluruh perjuangan ini, Meriyati berdiri sebagai pendukung utama yang dengan setia memaklumi dan menjaga prinsip hidup suaminya, memastikan bahwa keluarga mereka tetap bersih dari gratifikasi meski hidup dalam kesederhanaan.

Meriyati juga pernah menelepon suaminya yang masih di kantor lantaran ada tamu yang mengirimkan peti berisi barang mewah (mesin cuci, elektronik, kain mahal). Kemudian atas arahan Hoegeng, mereka mengembalikan barang-barang tersebut kepada pengirimnya. Ternyata ini upaya suap dari kasus smokkel (penyelundupan) di Makassar

4. Patuh pada Prinsip Etika Meski Harus Kehilangan Kesempatan Pribadi

Ketegasan Hoegeng sering kali dirasakan langsung oleh Meriyati. Pada awal 1970, Hoegeng menerima kabar bahwa ayah mertuanya yang berada di Belanda, Meneer Cortenbach, masih hidup. Bertepatan dengan agenda sidang umum Interpol di Brussels, Belgia pada September tahun yang sama, Hoegeng pun bertolak ke Eropa.

Berbeda dengan kebiasaan pejabat pada umumnya, Hoegeng memilih pergi tanpa didampingi keluarga. Ia memegang prinsip bahwa pemerintah hanya membiayai Kapolrti, tidak termasuk istri dan anaknya.

Di sela tugasnya, Hoegeng menyempatkan diri ke Belanda untuk menemui sang mertua dan berfoto bersama sebagai oleh-oleh untuk istrinya, Meriyati. Beberapa bulan berselang, Meriyati menerima kiriman wesel dari ayahnya. Melalui bantuan dana yang dikumpulkan secara urunan oleh keluarga di sana, Cortenbach berharap Meriyati bisa datang berkunjung ke Amsterdam. Namun ia dilarang pergi ke Belanda untuk menengok ayahnya karena Hoegeng tidak ingin wesel biaya perjalanan dari keluarganya di Belanda menjadi fitnah atau dikira gratifikasi. Meriyati menerima keputusan itu hingga akhirnya baru bisa berangkat pada Maret 1971 justru setelah ayahnya wafat.

5. Tidak Memanfaatkan Fasilitas dan Jabatan Suami

Meriyati dilarang oleh Hoegeng untuk menjadi Ketua Umum Bhayangkari. Alasannya sederhana namun mendalam, seperti yang disampaikan ulang oleh Didit, "Hoegeng ini komandan polisi di Indonesia, tapi Mery bukan komandan dari istri-istri para polisi."

Selain itu, Meriyati setia mendampingi suaminya yang lebih memilih tinggal di rumah kontrakan daripada rumah dinas yang mewah demi menjaga kemandirian sebagai penegak hukum. Sebagaimana diketahui, selama menjabat Kapolri, Hoegeng dan keluarga mengontrak rumah di Jalan M. Yamin (sekarang, Jalan Madura), Menteng, Jakarta Pusat. Ia enggan menempati rumah dinasnya di Jalan Pattimura, Kebayoran Baru.

FAQ Riwayat Jenderal Hoegeng

1. Siapa nama lengkap dan kapan Meriyati Hoegeng lahir?

Meriyati Roeslani, lahir pada tanggal 23 Juni 1925.

2. Bagaimana Meriyati membantu ekonomi keluarga di masa pensiun Hoegeng?

Meriyati mendampingi suaminya yang mengisi waktu dengan melukis, mengisi siaran dialog di radio Elshinta, dan menyanyi bersama grup musik Hawaiian Seniors.

3. Mengapa Jenderal Hoegeng bersikeras membayar sewa rumah meski pemiliknya menolak?

Hoegeng khawatir jika ia tidak membayar, pemilik rumah suatu saat akan meminta bantuan hukum yang tidak semestinya kepada dirinya sebagai Kapolri (kattebelletje).

4. Apa makna dari istilah 'smokkel' yang sering disebut dalam sejarah Hoegeng?

Smokkel adalah istilah lama untuk aktivitas penyelundupan yang menjadi salah satu fokus utama pemberantasan korupsi oleh Hoegeng di wilayah Sumatera Utara.

5. Apa kutipan Jenderal Hoegeng mengenai keterkaitan pemimpin dan anggotanya?

Salah satu yang terkenal adalah: "Baik atau buruknya suatu kepolisian itu tergantung pemimpinnya. Kalau pimpinannya baik, mudah-mudahan ke bawahnya akan baik juga."

SHARE NOW
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags