Brilio.net - Petugas keamanan proyek MRT Bundaran HI, Fiktor Harefa (FH), menyampaikan keinginan agar pengendara Alphard yang terlibat perselisihan dengannya dapat merasakan perlakuan serupa seperti yang dialaminya. Harapan tersebut mengemuka setelah dugaan tindakan intimidasi di Pos Polisi (Pospol) Thamrin mencuat ke publik, meski sebelumnya perselisihan lalu lintas itu sempat dinyatakan selesai secara damai.
Harapan Satpam Fiktor Harefa Agar Pengemudi Alphard Diperlakukan Sama
Fiktor Harefa secara terbuka mengungkapkan perasaannya mengenai insiden yang menimpanya. Ketika ditanya mengenai harapannya dalam proses hukum lanjutan berkaitan dengan pengemudi mobil mewah tersebut, petugas keamanan proyek WIKA-RAU KSO ini menegaskan keinginannya agar pihak lawan mendapatkan perlakuan yang setara.
Ia menyampaikan secara langsung tuntutan emosionalnya terkait kejadian tersebut.
"Ya, saya maunya sih mereka itu melakukan seperti saya diperlakukan waktu itu pada saat itu," katanya dikutip brilio.net dari Liputan6, Jumat (24/7/2026).
Fiktor juga meluruskan simpang siur mengenai aksinya yang sempat bersujud di hadapan pengendara mobil tersebut. Langkah itu diakui lahir akibat tekanan emosi dan rasa takut.
"Kalau sujud itu, itu kemauan saya sendiri karena saya udah ketakutan, udah emosi, sama otak saya itu juga sudah terganggu kemarin," ujarnya dikutip dari Liputan6.
Meski baru melewati tekanan psikologis dan fisik, petugas keamanan tersebut tetap profesional menjalankan kewajibannya di lapangan sebelum memenuhi panggilan penyidik di Polsek Metro Menteng.
"Masih. Ini tadi saya datang dari lokasi," ujar Fiktor.
Awal Perselisihan di Zebra Cross Bundaran HI
Perselisihan di kawasan jalan protokol Jakarta Pusat ini bermula pada Rabu (22/7/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Sebuah mobil Alphard disinyalir melanggar alat pemberi isyarat lalu lintas di penyeberangan pejalan kaki depan Halte Hotel Pullman, persis saat Fiktor hendak melintas.
Kapolsek Metro Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu membeberkan dinamika kejadian berdasar rekaman kamera pengawas.
"Sebagaimana CCTV juga yang beredar di media sosial, memang betul ada satu kendaraan yang menerobos lampu lalu lintas di penyeberangan zebra cross di halte. Kemudian saudara F pada saat itu kebetulan akan menyeberang juga. Yang bersangkutan sempat menepuk bodi mobil," kata Braiel dilansir dari Liputan6, Jumat (24/7/2026).
Pihak pengemudi disebut tidak terima ditegur.
"Pengendara mobil menerobos lampu merah di penyeberangan depan Hotel Pullman. Kemudian satpam menegur pengendara dengan menggebrak kaca mobil. Pengendara mobil tidak terima dengan tindakan security tersebut dan terjadi cekcok mulut," ujar Braiel.
Sisi kronologi lain disuarakan oleh kuasa hukum satpam, Wiradarma Harefa. Ia menyebut sinyal lampu penyeberangan sebenarnya sudah hijau untuk akses pejalan kaki.
"Saat lampu hijau untuk pejalan kaki, kendaraan berhenti, namun ada mobil Alphard jalan terus, dan petugasnya negur bilang kalau sudah merah. Lalu kendaraan berhenti setelah lampu merah dan terjadilah cekcok," ujarnya.
Wiradarma menambahkan, tiga orang penumpang keluar dari kendaraan roda empat tersebut untuk berdebat dengan Fiktor.
"Mereka mengaku sebagai anggota," kata Wiradarma.
Dugaan Hukuman Fisik di Pospol dan Proses Hukum Polisi
cekcok sopir Alphard satpam Bundaran HI
© 2026 /Instagram/@wiradarma_harefa
Kedua belah pihak sempat mendatangi Pospol Thamrin untuk penanganan awal. Kala itu, perselisihan diumumkan telah usai.
"Setelah kedua belah pihak sepakat akhirnya saling memaafkan dan berjabat tangan. Setelah selesai pengendara mobil melanjutkan perjalanannya dan security kembali bekerja di tempatnya," ujar Braiel.
Perwira polisi itu mengonfirmasi, "Sudah diselesaikan secara kekeluargaan, dibantu mediasi oleh Kapospol di Pospol Thamrin," pada Rabu (22/7/2026) lalu.
Namun, Wiradarma selaku kuasa hukum kemudian menyampaikan pengakuan kliennya mengenai proses mediasi. Kliennya diminta melakukan gerakan fisik push up, tetapi ditolak lantaran kondisi kesehatan pascaoperasi dan perut kosong atau belum makan.
"Sebagai gantinya disuruh melakukan gerakan seperti mengayuh sepeda dengan posisi terlentang di lantai," ujarnya.
Menurut kuasa hukum, Fiktor akhirnya meminta maaf sampai sujud.
"Dengan terus-menerus mengancam dan mengintimidasi, FH akhirnya minta maaf sampai sujud di hadapan mereka," kata Wiradarma.
Selain itu, kuasa hukum juga menyoroti dugaan penggunaan pelat nomor yang tidak sesuai dengan identitas kendaraan.
"Nopol kendaraan yang mereka pakai bukan peruntukan untuk Alphard, tapi peruntukan kendaraan lain," ujar Wiradarma.
Kuasa hukum menegaskan status tugas kliennya, "Dia security yang ditugaskan menjaga proyek MRT dari WIKA dan membantu melancarkan lalu lintas di sekitar proyek."
Kepolisian merespons perkembangan informasi ini. Braiel mengutarakan perlunya pendalaman.
"Kalau diminta sujud ini kami masih mengklarifikasi yang bersangkutan bagaimana prosesnya pada saat itu seperti apa riilnya. Saya perlu klarifikasi ke kedua belah pihak," ujarnya.
Ia menjamin ketidakberadaan kontak fisik berlebih.
"Yang jelas untuk proses pada saat itu tidak ada pemukulan atau tindakan kekerasan," tegas Braiel.
Aparat juga memeriksa petugas Pospol Thamrin.
"Iya, dimintai klarifikasi. Sekalian kita minta klarifikasinya seperti apa. Karena kan sudah ada proses mediasi, kemudian ada salah satu pihak yang merasa kurang pas atau kurang berkenan. Nah ini kita mau klarifikasi, kita undang, seperti apa sih duduk perkaranya, persoalannya. Dan pasti akan kita selesaikan sampai tuntas," tuturnya.
Peluang pelaporan formal dibuka lebar.
"Apabila ada hal yang kurang berkenan atau yang belum merasa puas dari pihak manapun, kami silakan untuk membuat laporan," kata Braiel, Kamis (23/7/2026).
Ia mengulangi, "Terutama dari pihak yang terkait, kami persilakan untuk membuat laporan apabila ada hal yang merasa kurang puas atau yang kurang berkenan pada saat proses mediasi. Kami persilakan dan akan kami tindak lanjuti sesuai dengan prosesnya, prosedur hukum.”
Pendampingan Perusahaan dan Agenda Pemanggilan Ulang
Dukungan resmi mengalir dari pihak korporasi WIKA-RAU KSO pelaksana Proyek Extended Concourse Bundaran HI.
"Perusahaan memberikan apresiasi kepada petugas keamanan yang telah berupaya menjalankan tugasnya dalam menjaga keselamatan masyarakat serta memastikan ketertiban di sekitar area proyek, sekaligus terus mendorong profesionalitas dan sisi humanis dalam menjalankan tugasnya," tulis pihak manajemen di media sosial, Jumat (24/7/2026).
Pihak manajemen menambahkan, "Perusahaan juga akan memastikan setiap personel yang menjalankan tugasnya secara profesional memperoleh perlindungan sesuai dengan ketentuan yang berlaku."
Di sisi penegakan hukum lalu lintas, Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Ojo Ruslani menegaskan langkah pemanggilan.
"Saya akan melakukan panggilan klarifikasi kepada pemilik Alphard. Kemudian panggilan klarifikasi kepada security yang terlibat cekcok dengan sopir Alphard. Setelah itu kita konfrontir di Subdit Gakkum," kata Ojo, Kamis (23/7/2026).
Agenda konfrontasi dilanjutkan pada Jumat (24/7/2026) di Mapolsek Metro Menteng.
Wiradarma mengonfirmasi kehadiran timnya.
"Iya betul," kata Wiradarma.
Menjelaskan kehadiran di kantor polisi, ia menuturkan, "Iya, tadi kami dapet informasi dari penyidik, Kanit, bahwa kami diundang ke sini untuk datang karena memang si pengemudi itu sudah ada di sini. Dan Kanit mau memfasilitasi untuk dilakukan ya apakah itu dimediasi atau yang lain, kita lihat dulu apa, seperti apa nanti. Oke, gitu, kita baru datang ini.”
Recommended By Editor
- Kronologi lengkap dugaan intimidasi satpam Bundaran HI usai tegur sopir Alphard terobos lampu merah
- 9 Potret Zaskia Adya Mecca beri hadiah umroh ke satpam kantor, kisah di baliknya bikin haru
- Mediasi berujung damai, begini akhir cerita Nasarius satpam mal yang pukul anjing
- Cewek cantik ini pilih jadi satpam usai gagal terpilih seleksi polwan, intip 7 potret pesonanya
- Dijaga satpam ular, 11 potret rumah bak istana bergaya Yunani di Garut


